Selasa, 07 Mei 2019

Sahabat Guru Belajar,

Selamat datang di Bimbingan Teknik (Bimtek)  Literasi dan Numerasi Palform Guru Belajar dan Berbagi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan literasi dan numerasi bagi anak Indonesia lima belas tahun terakhir ini mengalami perkembangan yang kurang menggembirakan. Hasil tes PISA belum dapat menunjukkan perkembangan yang sesuai harapan. Gerakan Literasi Sekolah (GLS)  sudah diprogramkan dan diberikan berbagai pelatihan. Dari praktik penerapan program GLS masing-masing daerah memiliki tafsir yang beragam. Penafsiran ini berdampak pada pelaksanaan program literasi di sekolah.

Dalam rangka meningkatkan kecakapan literasi dan numerasi guru kami menyelenggarakan Bimtek Literasi dan Numerasi ditujukan untuk guru SD dan SMP. Bimtek ini terdiri dari 3 Modul yaitu: 1) Konsep Dasar Literasi dan Numerasi, 2) Implementasi Literasi dan Numerasi pada pembelajaran di sekolah dan 3) Praktik Baik Literasi dan Numerasi di sekolah, keluarga dan masyarakat.

Melihat urgensinya materi dalam Bimtek ini, kami berharap Guru SMA/SMK/MA dan Kepala sekolah SD, SMP dan SMA seyogyanya mengikuti Bimtek ini. Hal ini akan banyak membantu proses implementasi literasi dan Numerasi pada jenjang tersebut. Para Widya Iswara Bahasa Indonesia dan Widya Iswara Matematika, perlu juga melihat materi dan perkembangan konsep serta implementasi Literasi dan Numerasi pada Bimtek ini.  

Sahabat Guru Belajar,

Setelah mengikuti Bimtek ini diharapkan peserta memiliki kecakapan literasi berkembang dengan indikator: 1) mampu melihat profil perkembangan literasi anak, 2) mampu menyiapkan kelas yang kaya teks, 3) mengetahui struktur pengetahuan bahasa ( bunyi, kata, kalimat dan pragmatik) 4) mampu mengomunikasikan ide dalam bentuk teks dan lisan dengan runtut.

Adapun gambaran umum dari materi ketiga modul adalah sebagai berikut:

  • Modul 1 Konsep Dasar Literasi dan Numerasi

Pada modul ini akan dibahas: 1) konsep dasar literasi, 2) konsep dasar numerasi, 3) perkembangan literasi, 4) perkembangan numerasi dan 5) pemrofilan literasi anak. Setelah menyelesaikan modul ini peserta akan dimudahkan untuk belajar modul 2.

  •  Modul 2 Implementasi Literasi dan Numerasi Berbasis Kelas

Pada modul 2 membahas: 1) implementasi Literasi dan Numerasi di kelas, 2) Implementasi Literasi dan Numerasi  tematik, 3)  Implementasi Literasi dan Numerasi berbasis mata pelajaran dan 4) Penyusunan program literasi dan numerasi di kafe.

  •  Modul 3 Praktik baik penyelenggaraan Literasi dan Numerasi. 

Sub modul terdiri dari 1) Literasi dan numerasi pada Keluarga, 2) literasi dan numerasi di Sekolah dan 3) Literasi dan Numerasi  di masyarakat. 

 

Sasaran dan tujuan

Sasaran program pedoman bimbingan teknis literasi dan numerasi berbasis platform Guru Belajar & Berbagi adalah Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas di jenjang SD, SMP, SMA/SMK di Indonesia maupun guru yang berada di Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN). Setelah mengikuti bimbingan teknis ini, peserta  diharapkan mampu menjelaskan praktik baik tentang pengembangan aktivitas atau kegiatan yang mendorong peningkatan literasi dan numerasi di sekolah dalam bentuk artikel, video, infografis, dan lain-lain yang dapat menjadi inspirasi serta rujukan bagi guru di seluruh Indonesia.

Adapun tujuan dari bimbingan teknis ini adalah: 

  1. memberikan pengetahuan pengertian literasi dan numerasi dengan tepat, 
  2. memberikan pemahaman  perkembangan  literasi dan numerasi sebagai bagian dari proses belajar berkelanjutan,
  3. memberikan keterampilan pemrofilan perkembangan literasi sebagai dasar pembelajaran numerasi, 
  4. memberikan pemodelan implementasi literasi dan numerasi pada pembelajaran di kelas, dan 
  5. memberikan pengetahuan tentang praktik baik literasi dan numerasi pada keluarga, sekolah dan masyarakat.

 

Hasil yang diharapkan

Dengan adanya pedoman bimbingan teknis literasi dan numerasi berbasis platform Guru Belajar & Berbagi, secara umum diharapkan dapat menghasilkan gambaran kegiatan dan program yang berisi miskonsepsi, konsepsi dasar, implementasi, dan praktik baik sebagai referensi guru lainnya dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi di Indonesia. Adapun secara khusus hasil yang diharapkan dari kegiatan bimbingan teknis ini diantaranya:

  1. Peningkatan keterampilan dasar literasi dan numerasi guru pendidikan dasar.
  2. Peningkatan keterampilan dasar literasi dan numerasi kepala sekolah pada pendidikan dasar.
  3. Peningkatan keterampilan dasar literasi dan numerasi pengawas sekolah pada pendidikan dasar.
  4. Mewujudkan keberlanjutan proses pembelajaran berbasis literasi dan numerasi sesuai dengan tingkatan kelas di jenjang pendidikan dasar

Pendaftaran dan Proses Belajar

  1. Peserta bimtek diberi keleluasaan untuk memilih jadwal waktu belajar sendiri sesuai pilihan waktu yang telah disediakan, melalui laman gurubelajardanberbagi.kemdikbud.go.id;
  2. Peserta mengikuti bimtek selama 32 Jam Pelajaran (JP) sesuai waktu yang telah dipilih. Peserta diharuskan untuk menuntaskan seluruh rangkaian bimtek hingga mengikuti Tes Akhir dan mendapatkan skor Tes Akhir paling rendah 70%. Peserta yang tidak dapat menyelesaikan modul bimtek atau perolehan skor Tes Akhir kurang dari 70%, dapat mengulang sampai dengan 3 kali post test. Apabila 3 (tiga) kali kesempatan tetap tidak berhasil /dinyatakan tidak tuntas, maka peserta   dapat mengulang kembali dengan memilih jadwal yang masih ada.
  3. Peserta yang sudah menuntaskan bimtek diharuskan membuat pengimbasan dan mengupload bukti fisiknya pada link yang sudah disediakan. Adapun Rencana Tindak Lanjut dibuat sebagai berikut:
    1. Untuk guru, rencana strategi implementasi literasi dan numerasi dalam kegiatan pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. Untuk Kepala dan Pengawas Sekolah, rencana implementasi strategi literasi dan numerasi di sekolah.
    2. Rencana pengimbasan kepada rekan sejawat di kelompok kerja (PKG, KKG, MGMP, MKKS, KKPS/MKPS) secara luring ataupun daring.
  4. Sertifikat dapat diunduh bagi peserta yang sudah menyelesaikan pengimbasan.

Bimbingan teknis peningkatan literasi dan numerasi berbasis Platform Guru Belajar & Berbagi bagi para guru penggerak di jenjang Pendidikan SD dan SMPmerupakan suatu kegiatan yang penting dan strategis Direktorat GTK DIKDAS Kemdikbudristek dalam rangka memfasilitasi para guru SD, dan SMP dalam upaya peningkatan kemampuan literasi dan numerasi di Indonesia. Penyusunan pedoman bimtek ini dimaksudkan sebagai acuan bagi penyelenggaraan bimbingan teknis dalam perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, dan pemantauan sekaligus evaluasi bimbingan teknis peningkatan literasi dan numerasi di Indonesia. Dengan adanya pedoman bimbingan teknis literasi dan numerasi berbasis Platform Guru Belajar & Berbagi diharapkan dapat menghasilkan gambaran kegiatan dan program yang berisi praktik baik sebagai referensi guru lainnya dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi di Indonesia. 

Sahabat guru, selamat mengikuti Bimtek.

 

Sabtu, 14 Oktober 2017

LILIN KEKINIAN

Cara membuat lilin kekinian sebagai lilin pengganti yg lumayan hemat saat mati lampu.

Bahan-Bahan yg diperlukan :
- Wadah spt Gelas / Botol
- Batu-batu kecil / manik2 atau hiasan yg bisa ditempatkan di air (Hiasan sesuai selera)
- Air
- Cotton bud
- Minyak Goreng
(Klo suka boleh ditambahin aroma terapi)

Cara membuat :
Masukkan batu2 / manik2 ke dasar Botol / gelas.
Tempat kan cotton bud ditengah2 gelas (Posisi tegak lurus)
Masukkan air, usahakan menyisakan +/- 0.5cm dibawah kepala cutton bud (yg ada kapasnya)...
Masukkn minyak Goreng sampai mendekati / mengenai kepala cutton bud ....
Nah lilin udah jadi deh ....

Lumayan hemat, dengan 1 sendok makan cukup untuk menyalakan lilin kekinian s/d berminggu minggu

Semoga bermanfaat !

Jumat, 22 September 2017

FULL DAY SCHOOL; WADAH PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR

FULL DAY SCHOOL; WADAH PENGUATAN
PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR
Oleh: Achmad Nurohim*


Dewasa ini bangsa Indonesia menunjukkan indikasi terjadinya krisis karakter yang cukup memprihatinkan. Praktik demoralisasi mulai merambah hampir semua sektor kehidupan dan bahkan juga dunia pendidikan. Fenomena yang mempertontonkan perilaku oknum peserta didik dan bahkan juga oknum pendidik  yang mengarah kepada degradasi moral sudah cukup untuk menampar wajah dunia pendidikan nasional kita. Hal ini terjadi, tentu bukan karena sistem pendidikan kita tidak mengajarkan nilai-nilai moral dan budi pekerti kepada peserta didik akan tetapi pengajaran nilai-nilai moral dan budi pekerti tersebut hanya cenderung sebatas menjadi pengetahuan kognitif saja dan kurang mempersiapkan siswa untuk menyikapi dan menghadapi kehidupan secara nyata.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan disetiap jenjang, termasuk sekolah dasar harus diselenggarakan secara sistematis dan professional untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini tentu berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill dari pada hard skill. Hal ini mengindikasikan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan sebagai upaya menyeimbangkan antara kemampuan hard skill dan soft skill dan juga penguatan implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar.

Konsep Pendidikan Karakter Dalam Konteks Full Day School di Sekolah Dasar
Karakter menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Dalam bahasa Yunani, karakter disebut ‘to mark’ yang berarti menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, korupsi, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya diberi label sebagai orang berkarakter jelek (akhlaq al-mazdmumah), sebaliknya, orang yang berperilaku baik dan sesuai dengan kaidah moral diberi label sebagai orang berkarakter mulia (akhlaq al-mahmudah).
Pendidikan karakter di sekolah dasar bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang mengarah pada pembentukan karakter peserta didik sejak dini. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik sekolah dasar mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter sehingga terejawantahkan dalam perilaku sehari-hari sampai mereka dewasa.
Pendidikan karakter pada tingkatan sekolah dasar juga mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi dan kebiasaan keseharian yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Pembentukan budaya sekolah yang baik tentu tidak hanya dilakukan pada saat pembelajaran tatap muka saja akan tetapi lebih dari itu harus ditindak lanjuti dengan berbagai program penguatan pendidikan karakter melalui penerapan full day school. Mengingat begitu pentingnya pendidikan karakter ditingkat sekolah dasar maka dipandang perlu untuk merumuskan grand design penguatan pendidikan karakter dalam konteks full day school sebagai rujukan konseptual dan operasional pengembangan implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar. Grand design tersebut meliputi: (1) pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran di sekolah dasar, (2) pendidikan karakter terintegrasi dalam ekstrakurikuler di sekolah dasar, dan (3) full day school sebagai wadah pembiasaan perilaku karakter di sekolah dasar.

Grand Design Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
 













1)        Pendidikan Karakter Terintegrasi Dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar
Konsep ini dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran adalah proses pengenalan dan penanaman nilai-nilai moral dan budi pekerti serta penginternalisasian nilai-nilai tersebut kedalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui kegiatan belajar mengajar baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Pada prinsipnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi kognitif seperti yang telah ditargetkan, juga dirancang untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi afektif, yaitu peserta didik dapat mengenal, menyadari, dan menginternalisasi nilai-nilai karakter dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Setidaknya terdapat dua pertanyaan mendasar yang perlu diperhatikan kaitannya dengan proses pembelajaran, yaitu: (1) sejauhmana kepiawaian seorang guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai karakter kedalam proses pembelajaran, dan (2) sejauhmana siswa dapat belajar dan menguasai materi pelajaran serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dalam waktu bersamaan seperti yang telah diharapkan. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila guru dapat menyampaikan keseluruhan materi pelajaran dengan baik serta menanamkan nilai-nilai karakter dan siswa dapat menguasai substansi tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Dalam struktur kurikulum sekolah dasar, pada dasarnya setiap mata pelajaran memuat materi-materi yang berkaitan dengan karakter. Secara subtantif, setidaknya terdapat dua mata pelajaran yang terkait langsung dengan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai, dan sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai-nilai. Integrasi pendidikan karakter pada semua mata pelajaran di sekolah dasar mengarah pada internalisasi nilai-nilai di dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.
2)        Pendidikan Karakter Terintegrasi Dalam Ekstrakurikuler di Sekolah Dasar
Ekstrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan sekolah dalam rangka memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama serta norma-norma sosial baik lokal, nasional, maupun global untuk membentuk insan yang paripurna. Dengan kata lain, ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar jam pelajaran yang ditujukan untuk membantu perkembangan peserta didik, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.  
Ekstrakurikuler merupakan bagian dari program pembinaan kesiswaan, yang termasuk kelompok bidang peningkatan mutu pendidikan. Artinya, kegiatan ekstrakurikuler dirancang dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, yang memperkuat penguasaan kompetensi dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik melalui kegiatan di luar jam pelajaran.
Kegiatan ekstrakurikuler memiliki fungsi pengembangan, sosial, rekreatif, dan persiapan karir.
a)      Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
b)      Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
c)      Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
d)      Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.
Dalam memantapkan kepribadian peserta didik guna mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan dan menyiapkan mereka agar berakhlak mulia, demokratis dan menghormati hak-hak asasi manusia, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, maka pendidikan karakter melalui ekstrakurikuler di sekolah dasar dapat diupayakan antara lain dalam bentuk kegiatan: (1) pembiasaan akhlak mulia, (2) masa pengenalan lingkunag sekolah (MPLS), (3) tatakrama dan tata tertib kehidupan sosial sekolah, (4) kepramukaan, (5) upacara bendera, (6) usaha kesehatan sekolah (UKS), (7) pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkoba, dan (8) madrasah diniyah (MADIN).
Pada dasarnya penguatan pendidikan karakter melalui pendekatan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar memiliki porsi waktu yang lebih besar dari pada saat proses pembelajaran tatap muka. Dalam kegiatan ekstrakurikuler, memungkinkan sepenuhnya dapat digunakan untuk kegiatan pengenalan dan penanaman serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dalam kehidupan secara nyata. Dengan demikian seharian penuh kegiatan sekolah berbasis karakter, dalam konteks inilah penulis menyebutkan full day school sebagai wadah penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar.

3)        Full Day School Sebagai Wadah Pembiasaan Perilaku Karakter di Sekolah Dasar
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Muhadjir Effendy menggagas sistem belajar mengajar dengan full day school. Penerapan konsep ini dilakukan supaya peserta didik mendapat pendidikan karakter dan pengetahuan umum di sekolah. Menurut Prof. Muhadjir Effendy (Okezone, 9/8/2016), menjelaskan bahwa konsep full day school bukan berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, misalnya: keterampilan, budi pekerti, olahraga, seni budaya dan lainnya, dan peserta didik juga akan libur pada sabtu dan minggu sehingga mereka dapat menghabiskan waktu bersama keluarga. Seperti yang telah dilansir oleh republika, (13/8/2016) Prof. Muhadjir Effendy juga menambahkan bahwa dalam penerapan full day school pada jenjang SD, sebanyak 70 persen untuk pendidikan karakter dan 30 persen akademis atau pengetahuan.
Dari paparan diatas, penulis mengapresiasi positif wacana penerapan konsep full day school di sekolah dasar, selain porsinya yang besar dalam penguatan pendidikan karakter, yaitu 70 persen selain itu juga dapat mengurangi kemungkinan anak melakukan tindakan-tindakan negatif yang dilakukan diluar sekolah. Menurut penulis konsep tersebut akan lebih aplicatible dan disambut positif oleh masyarakat apabila dalam penerapannya sekolah melakukan kerjasama (MoU) dengan lembaga-lembaga berbasis karakter, seperti madrasah diniyah (MADIN), remaja masjid, karang taruna, club-club olah raga dan seni yang ada disekitar lingkungan sekolah untuk bersama-sama melakukan penguatan pendidikan karakter kepada peserta didik.

Matriks Penguatan Pendidikan Karakter
Dengan Pendekatan Full Day School.
Model Penguatan Pendidikan Karakter
Bentuk Kegiatan
Terintegrasi dalam pembelajaran
Kegiatan belajar mengajar tatap muka dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran
Terintegrasi dalam ekstrakurikuler
Kegiatan non akademik diluar jam pelajaran tatap muka dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter
Full Day School sebagai wadah pembiasaan perilaku karakter
Keterpaduan antara kegiatan belajar mengajar tatap muka dan kegiatan non akademik diluar jam pelajaran tatap muka dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter

Simpulan
Tujuan pendidikan karakter di sekolah dasar untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik sejak dini secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Mengingat begitu pentingnya pendidikan karakter ditingkat sekolah dasar maka dipandang perlu untuk merumuskan grand design penguatan pendidikan karakter dalam konteks full day school sebagai rujukan konseptual dan operasional pengembangan implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar. Grand design tersebut meliputi: (1) pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran di sekolah dasar, (2) pendidikan karakter terintegrasi dalam ekstrakurikuler di sekolah dasar, dan (3) full day school sebagai wadah pembiasaan perilaku karakter di sekolah dasar.
Yang dimaksud dengan pendidikan karakter terintegrasi didalam proses pembelajaran adalah proses pengenalan dan penanaman nilai-nilai moral dan budi pekerti serta penginternalisasian nilai-nilai tersebut kedalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui kegiatan belajar mengajar baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran.
Ekstrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan sekolah dalam rangka memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama serta norma-norma sosial baik lokal, nasional, maupun global untuk membentuk insan yang paripurna.
Konsep full day school di sekolah dasar, selain porsinya yang besar dalam penguatan pendidikan karakter, yaitu 70 persen selain itu juga dapat mengurangi kemungkinan anak melakukan tindakan-tindakan negatif yang dilakukan diluar sekolah. Dan konsep ini akan lebih aplicatible apabila dalam penerapannya sekolah melakukan kerjasama (MoU) dengan lembaga-lembaga berbasis karakter, seperti madrasah diniyah (MADIN), remaja masjid, karang taruna, club-club olah raga dan seni yang ada disekitar lingkungan sekolah untuk bersama-sama melakukan penguatan pendidikan karakter kepada peserta didik.

* BIODATA PENULIS


Nama 
:
ACHMAD NUROHIM, S.Pd.SD
Pekerjaan
:
Pendidik/Guru
Tempat Kerja
:
SDN Manduro 2 Kab. Mojokerto JATIM
Email
:
Website/blog
:
achmadnurohim.blogspot.co.id
Nomor HP
:
0857-3236-9815, 0858-5632-8404
Alamat
:
Jl. Sumber Buluresik RT. 019 RW. 004 Desa Manduro MG Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto 61385 JATIM
Pengalaman Profesional
:
1.
Pendidik/Guru di SDN Manduro 2 Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2006-sekarang);


2.
Pendidik/Guru di SMP YPI Baiturrahman Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2006-sekarang);


3.
Tutor Program Kesetaraan Kejar Paket B Setara SMP PKBM “Al-Hidayah Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2008-sekarang);


4.
Sekretaris Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “Al-Hidayah Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2008-sekarang);


5.
Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Ds. Manduro MG Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2015-2020);


6.
Ketua Yayasan Amal Bhakti Nusantara (Ambhara) Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2015-sekarang);


7.
Pengurus Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 01 SD Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2016-sekarang);


8.
Kepala Madrasah Diniyah (MADIN) “Nurul Huda” Ds. Manduro MG Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2015-sekarang);


9.
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Program Studi S2 Pendidikan Dasar, (2016-sekarang).
 









  






Senin, 18 September 2017

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR
Oleh: Achmad Nurohim


A.       PENDAHULUAN
Dewasa ini bangsa Indonesia menunjukkan indikasi terjadinya krisis karakter yang cukup memprihatinkan. Praktik demoralisasi mulai merambah hampir semua sektor kehidupan dan bahkan juga dunia pendidikan. Fenomena yang mempertontonkan perilaku oknum peserta didik dan bahkan juga oknum pendidik  yang mengarah kepada degradasi moral sudah cukup untuk menampar wajah dunia pendidikan nasional kita. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan kita hanya cenderung mengajarkan pendidikan moral dan budi pekerti sebatas menjadi pengetahuan kognitif saja dan kurang mempersiapkan siswa untuk menyikapi dan menghadapi kehidupan secara nyata.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk sekolah dasar harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill dari pada hard skill. Hal ini mengindikasikan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan sebagai upaya menyeimbangkan antara kemampuan hard skill dan soft skill dan juga penguatan implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar.

B.        KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR
Karakter menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘to mark’ atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek (akhlaq al-mazdmumah), sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia (akhlaq al-mahmudah).
Pendidikan karakter di sekolah dasar bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang mengarah pada pembentukan karakter peserta didik sejak dini. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik sekolah dasar mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter sehingga terejawantahkan dalam perilaku sehari-hari sampai mereka dewasa.
Pendidikan karakter pada tingkatan sekolah dasar juga mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi dan kebiasaan keseharian yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Mengingat begitu pentingnya pendidikan karakter ditingkat sekolah dasar maka dipandang perlu untuk merumuskan grand design penguatan pendidikan karakter sebagai rujukan konseptual dan operasional pengembangan implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar. Grand design tersebut meliputi: (1) pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran di sekolah dasar, (2) pendidikan karakter terintegrasi dalam ekstrakurikuler di sekolah dasar, dan (3) full day school sebagai wadah pembiasaan perilaku karakter di sekolah dasar.

Grand Design Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
Oval: Full Day School
(habitualisasi di lingkungan sekolah)
Right Arrow: Nilai-nilai karakter
Right Arrow: Perilaku
karakter













C.        GRAND DESIGN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR
1)        Pendidikan Karakter Terintegrasi Dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar
Konsep ini dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran adalah proses pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai kedalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi kognitif yang ditargetkan, juga dirancang untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi afektif, yaitu peserta didik dapat mengenal, menyadari, dan menginternalisasi nilai-nilai karakter dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Setidaknya terdapat dua  pertanyaan mendasar yang perlu diperhatikan kaitannya dengan proses pembelajaran, yaitu: (1) sejauhmana efektivitas guru dalam melaksanakan pengajaran, dan (2) sejauhmana siswa dapat belajar dan menguasi materi pelajaran seperti yang diharapkan. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila guru dapat menyampaikan keseluruhan materi pelajaran dengan baik dan siswa dapat menguasai substansi tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Dalam struktur kurikulum sekolah dasar, pada dasarnya setiap mata pelajaran memuat materi-materi yang berkaitan dengan karakter. Secara subtantif, setidaknya terdapat dua mata pelajaran yang terkait langsung dengan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai, dan sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai-nilai. Integrasi pendidikan karakter pada semua mata pelajaran di sekolah dasar mengarah pada internalisasi nilai-nilai di dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.
Matriks Distribusi Nilai-nilai Karakter ke Dalam Mata Pelajaran

Mata Pelajaran


Nilai-nilai Karakter
Pendidikan Agama
Religius, jujur, santun, disiplin, bertanggung jawab, cinta ilmu, ingin tahu, percaya diri, menghargai keberagaman, patuh pada aturan social, bergaya hidup sehat, sadar akan hak dan kewajiban, kerja keras, peduli
PKn
Nasionalis, patuh pada aturan sosial, demokratis, jujur, menghargai keragaman, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
Bahasa Indonesia
Berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, bertanggung jawab, ingin tahu, santun, nasionalis
IPS
Nasionalis, menghargai keberagaman, Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, peduli social dan lingkungan, berjiwa wirausaha, jujur, kerja keras
IPA
ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, jujur, bergaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, peduli lingkungan, cinta ilmu
Seni Budaya
Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin tahu, jujur, disiplin, demokratis
Penjasorkes
Bergaya hidup sehat, kerja keras, disiplin, jujur, percaya diri, mandiri, menghargai karya dan prestasi orang lain
Bahasa Inggris
Menghargai keberagaman, santun, percaya diri, mandiri, bekerjasama, patuh pada aturan sosial
Muatan Lokal
Menghargai keberagaman, menghargai karya orang lain, nasionalis, peduli

2)        Pendidikan Karakter Terintegrasi Dalam Ekstrakurikuler di Sekolah Dasar
Ekstrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan sekolah dalam rangka memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama serta norma-norma sosial baik lokal, nasional, maupun global untuk membentuk insan yang paripurna. Dengan kata lain, ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar jam pelajaran yang ditujukan untuk membantu perkembangan peserta didik, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.  
Ekstrakurikuler merupakan bagian dari program pembinaan kesiswaan, yang termasuk kelompok bidang peningkatan mutu pendidikan. Artinya, kegiatan ekstrakurikuler dirancang dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, yang memperkuat penguasaan kompetensi dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik melalui kegiatan di luar jam pelajaran.
Kegiatan ekstrakurikuler memiliki fungsi pengembangan, sosial, rekreatif, dan persiapan karir.
a)        Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
b)        Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
c)         Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
d)        Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.
Dalam memantapkan kepribadian peserta didik guna mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan dan menyiapkan mereka agar berakhlak mulia, demokratis dan menghormati hak-hak asasi manusia, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, maka pendidikan karakter melalui ekstrakurikuler di sekolah dasar dapat diupayakan antara lain dalam bentuk kegiatan: (1) pembiasaan akhlak mulia, (2) masa pengenalan lingkunag sekolah (MPLS), (3) tatakrama dan tata tertib kehidupan sosial sekolah, (4) kepramukaan, (5) upacara bendera, (6) usaha kesehatan sekolah (UKS),  dan (7) pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Matriks Distribusi Nilai-nilai Karakter ke Dalam Ekstrakurikuler
Bentuk Kegiatan
Nilai-nilai Karakter
Pembiasaan Akhlak Mulia
Religius, Taat kepada Tuhan YME, Syukur, Ikhlas, Sabar, Tawakkal
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)
Percaya Diri, Patuh pada aturan-aturan sosial, Bertanggungjawab, Cinta Ilmu, Santun, Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
Tatakrama dan Tata Tertib Kehidupan Sosial Sekolah
Dapat Dipercaya, Jujur, Menempati Janji, Rendah Hati, Malu Berbuat salah, Pemaaf, Berhati Lembut, Disiplin, Bersahaja, Pengendalian Diri, Taat Peraturan, Toleran, Peduli sosial dan lingkungan
Kepramukaan
Percaya Diri, Patuh pada aturan-aturan sosial, Menghargai keberagaman, Berpikir logis, kritis, kreatif dan  inovatif, Mandiri, Pemberani, Bekerja Keras, Tekun, Ulet/Gigih, Disiplin, Visioner, Bersahaja, Bersemangat, Dinamis, Pengabdian, Tertib, Konstruktif
Upacara Bendera
Bertanggungjawab, Nasionalis, Disiplin, Bersemangat, Pengabdian, Tertib, Berwawasan Kebangsaan
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Patuh pada aturan-aturan sosial, Bergaya hidup sehat, Peduli sosial dan lingkungan, Cinta keindahan
Pendidikan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba
Percaya diri, Patuh pada aturan-aturan sosial, Bergaya hidup sehat, Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, Disiplin

3)        Full Day School Sebagai Wadah Pembiasaan Perilaku Karakter di Sekolah Dasar
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Muhadjir Effendy menggagas sistem belajar mengajar dengan full day school. Penerapan konsep ini dilakukan supaya peserta didik mendapat pendidikan karakter dan pengetahuan umum di sekolah. Menurut Prof. Muhadjir Effendy (Okezone, 9/8/2016), menjelaskan bahwa konsep full day school bukan berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, misalnya: keterampilan, budi pekerti, olahraga, seni budaya dan lainnya, dan peserta didik juga akan libur pada sabtu dan minggu sehingga mereka dapat menghabiskan waktu bersama keluarga. Seperti yang telah dilansir oleh republika, (13/8/2016) Prof. Muhadjir Effendy juga menambahkan bahwa dalam penerapan full day school pada jenjang SD, sebanyak 70 persen untuk pendidikan karakter dan 30 persen akademis atau pengetahuan.
Dari paparan diatas, penulis mengapresiasi positif wacana penerapan konsep full day school di sekolah dasar, selain porsinya yang besar dalam penguatan pendidikan karakter, yaitu 70 persen selain itu juga dapat mengurangi kemungkinan anak melakukan tindakan-tindakan negatif yang dilakukan diluar sekolah. Menurut penulis konsep tersebut akan lebih aplicatible dan disambut positif oleh masyarakat apabila dalam penerapannya sekolah melakukan kerjasama (MoU) dengan lembaga-lembaga berbasis karakter, seperti madrasah diniyah (MADIN), remaja masjid, karang taruna, club-club olah raga dan seni yang ada disekitar lingkungan sekolah untuk bersama-sama melakukan penguatan pendidikan karakter kepada peserta didik.

Matriks Penguatan Pendidikan Karakter
Dengan Pendekatan Full Day School.
Model Penguatan Pendidikan Karakter
Bentuk Kegiatan
Terintegrasi dalam pembelajaran
Kegiatan belajar mengajar tatap muka dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran
Terintegrasi dalam ekstrakurikuler
Kegiatan non akademik diluar jam pelajaran tatap muka dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter
Full Day School sebagai wadah pembiasaan perilaku karakter
Keterpaduan antara kegiatan belajar mengajar tatap muka dan kegiatan non akademik diluar jam pelajaran tatap muka dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter

D.       SIMPULAN
Tujuan pendidikan karakter di sekolah dasar untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik sejak dini secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Mengingat begitu pentingnya pendidikan karakter ditingkat sekolah dasar maka dipandang perlu untuk merumuskan grand design penguatan pendidikan karakter sebagai rujukan konseptual dan operasional pengembangan implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar. Grand design tersebut meliputi: (1) pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran di sekolah dasar, (2) pendidikan karakter terintegrasi dalam ekstrakurikuler di sekolah dasar, dan (3) full day school sebagai wadah pembiasaan perilaku karakter di sekolah dasar.
Yang dimaksud dengan pendidikan karakter terintegrasi di dalam proses pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran.
Ekstrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan sekolah dalam rangka memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama serta norma-norma sosial baik lokal, nasional, maupun global untuk membentuk insan yang paripurna.
Konsep full day school di sekolah dasar, selain porsinya yang besar dalam penguatan pendidikan karakter, yaitu 70 persen selain itu juga dapat mengurangi kemungkinan anak melakukan tindakan-tindakan negatif yang dilakukan diluar sekolah. Dan konsep ini akan lebih aplicatible apabila dalam penerapannya sekolah melakukan kerjasama (MoU) dengan lembaga-lembaga berbasis karakter, seperti madrasah diniyah (MADIN), remaja masjid, karang taruna, club-club olah raga dan seni yang ada disekitar lingkungan sekolah untuk bersama-sama melakukan penguatan pendidikan karakter kepada peserta didik.


* BIODATA PENULIS

Nama 
:
ACHMAD NUROHIM
Pekerjaan
:
Pendidik/Guru
Tempat Kerja
:
SDN Manduro 2 Kab. Mojokerto
Email
:
Nomor HP
:
0857-32369815
Alamat
:
Jl. Sumber Buluresik RT. 019 RW. 004 Desa   Manduro MG Kecamatan Ngoro Kabupaten   Mojokerto 61385 JATIM
Pengalaman Profesional
:
1
Pendidik/Guru di SDN Manduro 2 Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2006-sekarang)


2.
Pendidik/Guru di SMP YPI Baiturrahman Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2006-sekarang)


3.
Tutor Program Kesetaraan Kejar Paket B Setara SMP PKBM “Al-Hidayah” Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2008-sekarang)


4.
Sekretaris Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “Al-Hidayah” Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2008-sekarang)


5.
Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Ds. Manduro MG Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2015-2020)


6.
Ketua Yayasan Amal Bhakti Nusantara (Ambhara) Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2015-sekarang)


7.
Pengurus Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 01 SD Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2016-sekarang)


8.
Kepala Madrasah Diniyah (MADIN) “Nurul Huda” Ds. Manduro MG Kec. Ngoro Kab. Mojokerto, (2015-sekarang);


9.
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Program Studi S2 Pendidikan Dasar, (2016-sekarang)